Inikah Rasanya Menjadi Pelajar di Amsterdam?

Inikah Rasanya Menjadi Pelajar di Amsterdam?

Hi allemaal…

Salam kenal, aku Dewi Sriani, mahasiswi master Accounting and Control, VU Amsterdam 2017/2018. Aku mau sharing sedikit nih tentang gimana kehidupan pelajar di Belanda, khususnya Amsterdam. Semoga bermanfaat ya. Sebenarnya, aku waktu mau pergi ke Belanda, terutama di Amsterdam, ada rasa khawatir gitu. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku waktu itu: “Gimana ya kehidupan di sana? Kan bebas banget. Mudah nggak ya berteman? Mudah nggak ya untuk dapet makanan halal? Dapat perlakuan diskrimasi atau islampobhia nggak ya? Terutama pertanyaan: “cukup nggak ya uang beasiswaku untuk hidup di sana?” Alhamdulillah, aku menjadi salah satu bagian awardee LPDP dan tentunya mencoba nih sebagai anak beasiswa gimana untuk mengatur keuangan biar nggak kurang atau malah bisa nabung dan jalan-jalan :p. Aku kasih sedikit gambaran ya kawan2.

 

  1. Iamsterdam

Selamat datang di negeri keju, negeri Tulip dan di kota sepeda, Amsterdam. Kesan pertamaku, Amsterdam itu bagus, bersih, teratur, dan banyak banget orang bersepeda. Amsterdam adalah ibu kota Belanda yang ternyata kota ini berada di bawah permukaan laut dengan titik terendahnya sekitar 6,7 meter di bawah permukaan air laut. Arsitekturnya menarik, campuran arsitektur lama abad ke-17 dan arsitektur modern. Kota ini juga multikultural banget karena dihuni oleh lebih dari 100 kewarganegaraan berbeda di dunia. Jadi untuk kawan-kawan yang belum bisa fasih berbahasa Belanda, tenang…mayoritas bisa berbahasa Inggris kok. Selain kejunya enak, Amsterdam juga memiliki banyak kanal yang panjangnya lebih dari 100 km loh, juga ratusan museum. Tapi benar di negeri ini prostitusi, ganja dan LGBT adalah legal. Meski begitu, negeri ini menurutku toleran. Aku sebagai pelajar muslim tidak mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan selama tinggal di sini. Welkom in Amsterdam!

  

 

  1. Akomodasi

Kalau di VU Amsterdam sendiri, sebagai mahasiswa internasional, kampus menyediakan jasa housing. Aku tinggal di Amsterdam Lelylaan, yang ternyata kawasan muslim. Harga sewa kamarnya 567,5 euro per bulannya. Mahal ya. Bisa dibilang, housing di Amsterdam lebih mahal dari kota-kota lainnya seperti di Wageningen, Leiden, dan yang lain. Tapi aku dapatnya adalah kamar tipe studio, jadi semua lengkap dari perabotan, dapur, juga kamar mandi. Apartemen ini juga dekat dengan bandara Schiphol (sekitar 7 menit), bersebelahan langsung dengan stasiun kereta, tram, juga bus. Harga housing juga tergantung tipe kamarnya kawan-kawan, misalnya jika pengen sharing dapur, kita bisa dapat harga 420 euro per bulan, seperti di Uilenstede, atau sharing kamar mandi dan dapur (campur laki-laki dan perempuan) bisa dapat 350 euro per bulan. Tapi alhamdulillah, karena tipe studio, aku bisa mengajukan rent allowance, semacam subsidi sewa dari pemerintah dan alhamdulillah juga dapat potongan harga sewa itu sekitar 188 per bulan. Jadi aku bayar sewanya 379 euro per bulan. Alhamdulillah ya. All in all, housing di sini berkisar antara 350 euro – 850 euro.

 

  1. Transportasi dan Telekomunikasi

Amsterdam adalah kota sepeda kawan, bahkan jumlah sepedanya lebih banyak dari jumlah penduduknya. Kenapa bisa gitu? Yes.. di sini sebagian besar jalannya datar, juga ada jalur sepeda tersendiri. Aku waktu itu beli sepeda bekas harganya 60 euro dan kuncinya 20 euro, jadi total 80 euro. Karena menurutku tempat tinggal dan kampusku agak jauh dan gampang ngos-ngosan (ketauan jarang olahraga :p), akhirnya setelah mencoba naik sepeda ke kampus, aku bertahan hanya 4 kali mungkin (30 menit sepeda) dan karena kelelahan :p, aku putuskan naik metro, tram, atau kadang bus. Harga transportasi pulang pergi kampus skitar 3,2 euro. Jadi kalau sebulan skitar 60 euro. Atau kalau langganan kereta yang diskon 40%, biayanya sekitar 50 euro per tahun, langganan kereta NS gratis ke seluruh belanda 102 euro per bulan. Ada bermacam-macam tawaran langganan kereta/ GVB, nanti temen-temen bisa cek website nya ya. Kalau bersepeda tentu bisa jauh lebih hemat. Tergantung, kawan-kawan pilih yang mana. Kalau untuk telekomunikasi, wifi banyak tersedia termasuk di dalam kereta. Untuk kartu SIM Card harganya sekitar 15 euro. Kesimpulannya, untuk transportasi dan telekomunikasi berkisar 100 euro ya per bulan, tentu bisa lebih atau kurang dari itu.

 

  1. Makanan

Jika tak kenal maka tak sayang, maka jika tak makan tentu tak kenyang (garing mode on). Untuk makanan sendiri murah kok, kalau masak sendiri :p. Aneka kebutuhan pokok seperti beras, kentang, sayur, buah, ayam, lauk ikan, tempe, tahu, susu, yoghurt, dan tentu andalan anak kos yakni mie instan dapat dengan mudah didapatkan di supermarket atau pasar mingguan. Kalau masak sendiri, 100 euro per bulan itu udah lebih-lebih kawan. Kalau makan di luar, harga burger atau kentang sekitar 3 euro, atau makanan besar sekitar 10 euro untuk sekali makan. Aku alhamdulilah tinggal di kawasan muslim, jadi resto makanan halal juga toko daging halal sangat mudah aku temui. Oh ya, Belanda itu negeri Indonesia kedua menurutku, Home away from home. Jadi penduduk Indonesia juga resto masakan Indonesia itu lumayan mudah dijumpai. Kalau kangen masakan Indo, bisa coba ke Waroeng Aji, Warung bambu, dll. Jangan lupa coba spareribs di Crystal ya dan restoran masakan China, New King. All in all, untuk makan 200 euro per bulan sangat lebih dari cukup Insya Allah, asal ndak tiap hari makan di luar ya.

 

  1. Pertemanan dan Buku Kuliah

Karena aku di jurusan akuntansi, jadi harga bukunya lumayan mahal, per buku ada yang 100 euro. Namun beberapan mata kuliah ada e-book juga kok dan bisa pinjam diperpustakaan. Awal-awal di kampus, aku agak susah cari teman yang asli bule. Di jurusanku orangnya sangat individualistik. Meski begitu nggak ada perlakuan yang gimana gimana dari dosen, all students are treated equally. Lambat laun akupun akhirnya punya temen-temen dekat orang Belanda dan mereka baik-baik banget. Tips berteman dengan kawan bule adalah hindari obrolan yang bersifat privasi seperti tentang keluarga dan agama, kecuali sudah dekat. Sapaan hi serta obrolan ringan seperti cuaca dan aktivitas weekend bisa jadi awalan yang bagus. Oh ya, teman-teman PPI Amsterdam pun juga sudah seperti keluarga sendiri. kita yang sama-sama anak rantau saling membantu dan mendukung satu sama lain. Dank jullie wel!

 

  1. Tempat Ibadah

Sebagai pelajar muslim, alhamdulillah di VU Amsterdam menyediakan musholla yang nyaman,karena tidak semua kampus menyediakan, kawan. Jika kangen dengan pengajian orang Indonesia, kawan-kawan bisa berkunjung ke PPME (Perhimpunan Pemuda Muslim se-Eropa) Al Ikhlash, Amsterdam. Ini adalah masjidnya orang Indonesia. Tidak hanya peringatan hari besar Islam, namun setiap minggu ada beberapa acara. Bahkan beberapa kawan ada yang menjadi guru ngaji di sana loh J. Masjid di Amsterdam juga ada beberapa seperti Watermoskee Aya Sofya, Moskee el Tawheed, dan lain-lain. Namun tentu nggak sebanyak di Indonesia yang mayoritas umat muslim. Menurutku dan juga teman-teman, meski negeri bebas, Belanda adalah negeri yang toleran. Jadi kawan-kawan terutama yang muslim tidak perlu terlalu khawatir ya. Enjoy Amsterdam!

Sekian kawan, bincang-bincang kecil kita. Semoga bermanfaat ya. In nutshell, Amsterdam adalah kota pelajar yang toleran. Biaya hidup bulanan di sana sekitar 900 euro per bulan, bisa lebih kecil atau lebih besar dari itu tergantung gaya hidup kita ya. Jadi uang beasiswa LPDP alhamdulillah sudah lebih dari cukup Insya allah. Selamat datang di Amsterdam. Welkom in Nederland. Selamat menikmati kultur akademik yang berbeda. Juga selamat menjelajah negeri Belanda juga negeri-negeri Eropa lainnya. Semangat yaaaa. Tot ziens en veel succes !!!

 

Groeten,

Dewi

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *